Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Friday, March 14, 2008

Buku Baru

Hasil jalan ke Gramedia BCS Mall Batam hari Senin lalu:
  1. dalam-mihrab-cinta.jpg Habiburrahman El Shirazy: Dalam Mihrab Cinta, penerbit Republika
  2. pitaloka.jpg Tasaro: Pitaloka Cahaya, penerbit Aditera
  3. taj-mahal.jpg John Shors: Taj Mahal Kisah Cinta Abadi, penerbit Mizan
  4. Doraemon 3 seri
  5. Panduan Dasar Menggambar Dengan Pensil Untuk Anak
  6. Majalah Bobo no.49

Sebenarnya masih ingin membeli beberapa buku lain seperti Deception Point-nya Dan Brown, The Sicilian-nya Mario Puzo atau Mereka Mengkhianati Saya tulisan Femi Adi Soempeno. Tapi mengingat budget yang terbatas, untuk sementara waktu ditunda dulu ke lain kesempatan.

Sekarang aku sudah mulai mencicil membaca buku-buku diatas, mulai dari karyanya Kang Abik dulu.

O iya, no 4~6 dalam list di atas adalah untuk anakku ADA :)

Monday, November 19, 2007

The Kite Runner

Tadi malam baru saja menyelesaikan sebuah novel berjudul The Kite Runner. Agak ketinggalan jauh sebenarnya karena novel ini pertama kali dirilis tahun 2003 di Amrik sana. Tapi aku baru tahu dan membacanya sekarang ini.

Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang warga Afghanistan yang dibayangi oleh rasa bersalah atas peristiwa masa kecilnya, ditulis dengan sangat memikat dan menyentuh oleh penulis berdarah asli Afghanistan Khaled Hosseini. Sebuah novel yang mampu membawa pembacanya ikut merasakan dan menjalani kehidupan keras di Afghanistan, mulai dari pasca perang saudara, kejatuhan monarki, masuknya Soviet, eksodus warga Afganistan mengungsi ke Pakistan dan negara-negara lain (termasuk Amerika, dimana tokoh utama Amir dibawa oleh ayahnya Baba), sampai ke masa berkuasanya Taliban dan kejatuhannya.

Karakter tokohnya beragam dan kuat. Amir yang dihantui kesalahan masa lalunya, Hassan yang selalu membela dan melayani Amir, Baba yang terhormat tapi harus menerima kekalahan hidup di pengungsian, Rahim Khan yang mengetahui banyak hal mengenai rahasia-rahasia Baba, sampai Assef sang antagonis pemerkosa Hassan yang akhirnya menerima pembalasan Sohrab (anak Hassan) di akhir cerita.

Plot cerita yang melompat-lompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya sungguh menarik diikuti. Berat rasanya melepaskan buku ini sebelum selesai karena takut kehilangan detail cerita, budaya dan bahasa khas yang diwarnai rasa Afghanistan kental.

Novel yang bagus. Tak heran jika ia telah diangkat ke layar lebar dan mendapatkan pujian juga.

Tuesday, May 29, 2007

Novel Di Atas Sajadah Cinta

Nampaknya aku sudah menjadi salah seorang dari penggemar karya-karya novel sastra Islami dari Habiburrahman El Shirazy. Novel-novel karyanya benar-benar novel pembangun jiwa, sebutan yang diberikan ketika ia meluncurkan novel Ayat-Ayat Cinta.

2 karya lain dari Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy) Di Atas Sajadah Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra yang beberapa bulan lalu pernah kubaca, kemaren sore aku baca ulang. Jika dulu aku membacanya biasa-biasa saja, maka baca ulang kali ini memberikan kesan yang mendalam di hati, terutama pada Di Atas Sajadah Cinta. Ada pelajaran dan hikmah yang kudapat.

Kalimat dan episode paling menyentuh dari mini novel Di Atas Sajadah Cinta buatku adalah ketika tokoh Zahid menangis terlambat bangun untuk shalat tahajjud dan mengucapkan do'a: “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di syurga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah, maka berilah kekuatan.”

Sungguh gambaran rasa cinta yang luar biasa kepada Allah SWT. Zahid tidak ingin setetes rasa cinta dunia menghalanginya mendapatkan surga akhirat. Bayang-bayang rasa cinta dan rindu serta tidak ingin kehilangan Afirah bercampur dengan rasa cinta dan takut adzab Allah SWT, membuatnya jatuh pingsan dan mengakibatkan ia terlambat bangun shalat tahajjud.

Aku tertonjok sangat. Aku belum sampai pada tingkat kecintaan yang begitu tinggi dan agung. Aku tidak menyesali tidak melaksanakan shalat tahajjud, jika terbangun aku akan shalat, tapi jika baru terbangun di saat subuh, aku merasa tidak apa-apa. Padahal shalat sunat tahajjud bernilai sangat tinggi dan merupakan puncak kedekatan seorang hamba dengan penciptanya.

Aku sudah coba melecut diri untuk lebih rajin shalat tahajjud, antara lain tidak tidur terlalu malam, selalu mengingatkan diri menjelang tidur agar bangun lebih cepat, meminta istri membangunkanku jika ia terbangun tengah malam, sampai menyalakan alarm. Namun kadang-kadang usaha itu tidak berhasil juga. Berat kantuk di pelupuk mata jauh menggodaku untuk lebih memilih tidur daripada menghadap Allah SWT. Rasa malas menggayuti dan menakut-nakuti diriku akan dinginnya air wudhu. Aku lebih sering kalah daripada menang menghadapi setan-setan itu. :(

Aku ingin seperti Zahid yang memiliki cinta Ilahi sangat besar. Aku ingin lebih dekat dengan Allah SWT, antara lain melalui shalat tahajjud. Akan kucoba terus...

PS: Untuk yang ingin membaca Di Atas Sajadah Cinta secara online, silakan ke tautan ini.

Monday, April 30, 2007

Novel Ayat-Ayat Cinta

Tadi malam aku dan istri menamatkan bersama ebook novel Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman el Shirazy. Mungkin memang tergolong terlambat (karena novel ini sudah beredar dari tahun lalu), tapi kami justru tertarik membacanya setelah terlebih dahulu memiliki buku indah lainnya, Ketika Cinta Berbuah Surga karya penulis yang sama. Bagiku, hanya dua kata: luar biasa, untuk menggambarkan novel Ayat-Ayat Cinta.

Sudah lama aku tidak membaca novel yang meninggalkan bekas di hati begitu dalam seperti ini. Indah dan dalem banget. Banyak hikmah yang bisa dijadikan pelajaran hidup, sangat sejuk untuk dibaca, begitu meng-inspirasi, dan begitu indah cinta yang diberikan Allah SWT kepada kita. Buku ini juga bisa memotivasi untuk hidup yang lebih baik, jujur, bersikap sayang dan hormat pada sesama, memiliki visi jauh ke depan, serta kepasrahan kepadaNya.

Ada beberapa bagian dari buku ini yang membuatku tidak bisa berhenti untuk terus membacanya. Seperti saat tokoh Fahri akan bertemu dengan Aisha calon istrinya (iri sekali rasanya hati ini!), atau saat ia bermimpi bertemu dengan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Mas’ud (aku juga ingin! Salam rindu teramat dalam untukmu ya Rasul dan para Sahabatmu), atau saat Maria mengetuk minta dibukakan pintu surga (terasa merinding di hati ini membacanya). Di saat-saat seperti itu rasanya hati ini bergejolak dan menangis.

Juga ada beberapa ungkapan yang sebelumnya sudah pernah diketahui tapi tidak mengerti apa maksudnya, menjadi jelas setelah membaca novel ini. Idiom cinta air dingin dalam doa Nabi Muhammad: Ya Allah, jadikan cintaku kepadaMu melebihi cintaku pada harta, keluarga, dan air yang dingin, menjadi jelas artinya bagiku. Juga cara menasihati istri yang diajarkan dengan baik dalam Islam. Dan juga kalimat ‘Ana uhibbuka fillah, ya Akhi’ (Aku mencintaimu karena Allah, Sahabatku!) terasa sangat menyentuh jiwa.

Ini ada tautan ke sebuah blog yang memberikan resensi bagus untuk novel Ayat-Ayat Cinta, jika ingin membacanya lebih lanjut.