Thursday, September 27, 2007
Ke Batam Untuk ATS ESQ
Posted by
a_ardal
at
12:09 PM
2
comments
Undangan Berbuka, Gratifikasi?
Karena baru kali ini makan di restoran steamboat, awalnya bingung aja ngelihatin begitu banyak bahan makanan mentah begitu. Siapa yang masakin? Gimana masaknya? Berapa banyak yang boleh diambil? Apa saja yang mau dimakan? Halah... dasar ndeso! :)
Bukan makan-makannya yang ingin kutulis di sini, tapi masalah gratifikasi-nya. Undangan berbuka ini tergolong gratifikasi bukan? Kalau iya, sah ngga' untukku?
Mungkin kalau bukan aku yang mengurus rekrutmen tenaga kerja di Produksi, aku tak akan diundang hadir. Mungkin kalau bukan aku yang duduk di posisi Production Manager, aku tak akan diundang hadir. Mungkin kalau bukan aku yang mengambil keputusan, aku tak akan diundang hadir. Mungkin kalau aku tidak berhubungan baik dengan boss penyalur itu, aku tidak akan diundang hadir.
Jadi kenapa aku diundang? Gratifikasi? Yang kuragukan hanya itu, halal dan sah tidak makanan yang kumakan tersebut?
Ya Allah, ampuni hambaMu yang dho'if ini. Jangan gelapkan mata hatiku dengan kenikmatan makanan dunia karena sungguh aku merindukan makanan surgaMu. Jangan tukar nikmat meminum air sungai surgaMu dengan minuman dunia yang sesaat saja segarnya. Ya Allah, hapuskan congkak dan sombong di hati hamba karena ianya membuat hamba jauh dariMu.
Posted by
a_ardal
at
8:00 AM
0
comments
Labels: Kontemplasi, Pekerjaan
Tuesday, September 25, 2007
Virus Blog
Maybe... Tapi ngga' nyangka juga angkanya lumayan tinggi! :)
75%How Addicted to Blogging Are You
Gimana ngobatinnya ya? :)
Ketemu tautan setelah jalan-jalan di sini.
Posted by
a_ardal
at
7:41 PM
0
comments
Labels: Blog, Gak Penting
Wednesday, September 19, 2007
TKW Lugu dan Indonesiaku
Mereka yang kumaksud adalah gadis-gadis muda usia yang datang ke Singapura untuk bekerja sebagai TKW (entah apa bidang pekerjaannya nanti) yang tadi kutemui di Harbour Front. Gadis-gadis lugu yang entah direkrut dari pelosok Indonesia yang mana. Gadis-gadis 18~20 tahunan berkaos oblong lusuh bercelanan jeans berambut pendek (sepertinya rambut pendek ini adalah syarat dari agensi yang merekrut mereka, menjadi perhatianku karena potongannya sama satu sama lain) yang datang dengan menyeret tas besar milik mereka. Gadis-gadis yang bahkan tak tahu bagaimana cara keluar dari ruangan berpintu otomatis!
Di luar berbagai perlakuan yang akan mereka dapatkan, keberhasilan atau penderitaan, ataupun juga pengalaman dan kehidupan baru, aku berpikir sampai kapan bangsaku akan terus mengekspor warganya yang tak berpendidikan dan berkemampuan bagus demi menangguk sedikit devisa dari luar negeri? Sampai kapan bangsaku yang dulu begitu dihormati di Asia Tenggara (ah, rindu dengan pemimpin seperti engkau, Bung Karno!) akan terus menjadi bangsa yang tak dihormati dan dinista (bahkan oleh sesama Melayu!) karena stereotip kelas pembantu? Sampai kapan mentalitas korup bangsaku akan terus ada karena jika ia hilang maka tercipta stabilitas ekonomi dan keamanan yang lebih baik demi tumbuhnya roda-roda kehidupan yang akan mengundang investor berduyun-duyun datang?
Manusia Indonesia tidak bodoh sesungguhnya, andai punya kesempatan untuk belajar ke tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman berinteraksi dengan beragam manusia dari berbagai bangsa telah menunjukkan padaku bahwa orang luar negeri tidak lebih pintar dari kita. Malahan dalam banyak hal kutemui bahwa orang Indonesia selain lebih cerdas dan baik, kita juga lebih tangguh, pekerja keras, bersemangat tinggi, dan tidak gampang menyerah dengan keadaan. Bukankah itu modal yang luar biasa?
Jadi kunci sebenarnya adalah pendidikan yang lebih baik untuk membuka kesempatan yang lebih luas. Aku teringat pertanyaan Kaisar Hirohito ketika Jepang hancur lebur dalam Perang Dunia ke-2, "Seberapa banyak guru kita yang masih hidup?". Sebuah pertanyaan tanda kepedulian yang luar biasa atas nasib bangsa di masa yang akan datang. Hirohito sangat mengerti pentingnya pendidikan bagi bangsanya. Dan dengan dasar itulah Jepang bangkit menjadi raja ekonomi dunia saat ini.
Bagaimana pendidikan Indonesia saat ini? Bagaimana nasib bangsa ini nanti? Akankah terus selugu para TKW itu yang terlongong-longong di negara orang lain?
Posted by
a_ardal
at
8:03 PM
0
comments
Labels: Lingkungan, Opini, Pendidikan
Stiker Bikin Bingung

Aku mengartikannya sebagai 'mobil yang bersih adalah tanda dari pikiran yang kotor'. Heh, kok gitu? Kuputar kincir-kincir otakku untuk mencari maksud tersembunyi dari kalimat itu. Tapi sampai saat tulisan ini dibuat, aku belum menemukan maksud tulisan di stiker itu.
Anybody can help?
Posted by
a_ardal
at
7:34 PM
0
comments
Labels: Lain-Lain, Lingkungan
Friday, September 14, 2007
Mesjid 45 Kipas
Di dinding atas dalam ruang utama masjid dipenuhi dengan kaligrafi-kaligrafi indah berwarna hijau, merah, hitam dan biru. Di bagian depan atas mimbar adalah kaligrafi Asmaul Husna 99 nama Allah berwarna merah. Samping kanan adalah kaligrafi Al Fatihah, samping kiri ayat Qursy dan bagian belakang aku belum memperhatikan dengan cermat (ngga' enak dong menoleh-noleh ke belakang saat jamaah sedang penuh). Lalu pada 4 tiang terdapat kaligrafi surat Al Kaafiruun, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas. Meski bangunan mesjidnya sendiri sederhana, tapi dengan karya kaligrafi tersebut maka mesjidnya terasa menjadi indah.
Kalau di Indonesia kotak infak/sadaqah biasanya terbuat dari kayu. Barangkali maksudnya adalah agar jamaah yang memasukkan uang ke dalamnya merasa aman orang lain tidak mengetahui jumlah uang yang dimasukkan, biar jauh dari rasa riya'. Meski di beberapa tempat pernah juga ditemui kotak infak terbuat dari kaca sehingga tembus pandang isi di dalamnya. Nah di mesjid Jamee' ini, kotak infaknya adalah kotak plastik ware (wadah makanan) yang dilubangi. Lucu juga dan nampak simple.
Hal berikutnya yang menarik perhatian adalah jumlah kipas angin yang tersedia di dalam mesjid. Aku hitung semuanya ada 45 kipas angin! Pada setiap sisi dinding ruang utama mesjid berukuran 8x16 meter itu terdapat 2 buah, dekat mimbar ada 3 buah, pada ke-4 tiang terdapat masing-masing 3 buah, di teras kiri kanan terdapat 2 buah, teras belakang 3 buah da di bagian belakang ada 15 buah kipas angin! Hebatnya, semua kipas angin itu beroperasi dengan baik. Jadi semilir dan desir angin selalu terasa di dalam mesjid, membuat perasaan terasa nyaman dan enak untuk beribadah di dalamnya.
Posted by
a_ardal
at
6:24 PM
0
comments
Labels: Islam, Kegiatan, Lingkungan
Negara Taman
Beberapa photo berikut diambil saat dalam perjalanan dari Tuas Check Point (Imigrasi) ke Harbour Front. Lihatlah pepohonan di kiri kanan jalan yang rapi dan terawat dengan baik. Perhatikan juga bersihnya aspal jalan dan lapangnya jalur lalu lintas (photo diambil pukul 2 siang) sehingga sangat nyaman dilewati.
Padahal pembangunan berbagai fasilitas baru di sepanjang jalan itu terus dilakukan. Ada pembangunan gedung perkantoran, apartemen mewah, bahkan stasiun MRT baru. Namun sungguh berbeda dengan pengerjaan konstruksi di Indonesia (dan juga Malaysia) yang semrawut, pembangunan itu dilakukan dengan sangat rapi, tertutup, bersih, dan sangat terencana. Tidak akan nampak bagaimana pengerjaannya (kecuali kalau kita di jalan layang dan pembangunannya di tempat yang lebih rendah) karena sekeliling area ditutup dengan seng atau plastik rapi. Tidak akan nampak truk-truk lewat membawa tanah berceceran karena truk tersebut wajib menutup bagian atasnya (jika ada tanah berceceran di jalan, pihak konstruksi akan terkena denda yang tinggi). Tidak akan nampak jalan yang kotor atau rusak dilewati alat-alat berat. Tidak ada penebangan pohon atau perataan wilayah tanpa mempertimbangkan faktor keindahan penghijauan, dsb. Hasilnya adalah pembangunan yang rapi, sesuai site plan, tepat waktu dan memperhatikan lingkungan.
Kapan ya kota-kota di Indonesia bisa menjadi kota taman seperti Singapore?
Posted by
a_ardal
at
3:13 PM
0
comments
Labels: Lingkungan, Opini
Thursday, September 13, 2007
Gempa Di Padang

Menurut prediksi para ahli, kawasan pantai barat Sumatera adalah kawasan rawan gempa. Karena itu penduduk di sana akan terus merasakan goyangan tanah tempat mereka berpijak. Merasakan kehilangan penyangga di kaki-kaki mereka karena Allah Al Qoobidh sedang menarik kekuatan itu darinya. Itulah salah satu wujud keMahaPerkasaanNya! Lalu, bagaimanakah manusia boleh merasa sombong melangkahkan kakinya di dunia?
Mudah-mudahan keluarga di Padang selalu dalam lindunganNya. Demikian juga bagi seluruh warga kota Padang, Bengkulu, Jambi dan daerah-daerah lain yang terkena dampak gempa tersebut. Semoga semua bisa mengambil hikmah dari ujian ini dan Insya Allah akan membuat mereka tabah dan sabar menghadapinya.
Photo dari liputan6.com
Posted by
a_ardal
at
9:05 AM
0
comments
Labels: Keluarga, Lingkungan
Wednesday, September 12, 2007
Marhaban Ya Ramadhan
Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amalan diterima dan do'a diijabah. Taqqoballahu minna waminkum, taqoballahu ya Kariim. Allaahumma baariklanaa fi Sya'ban wa ballighnaa Ramadhan
Ya Rabb, berkahi kami pada bulan Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan. Amiiin...
Do'a Malaikat Jibril "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri; tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya". Maka Rasulullah pun mengatakan amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum'at.
Saatnya istirahat dalam "perjalanan dunia", saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga, saatnya menikmati indahnya kemurahanNya, saatnya memahami makna pensucian diri.
Selamat menunaikan Ibadah Puasa!
Note: Diedit dari salah satu email sahabat yang masuk ke mailbox-ku.
Posted by
a_ardal
at
2:32 PM
0
comments
Labels: Islam
Tuesday, September 11, 2007
Monday, September 10, 2007
Tertahan di Imigrasi Malaysia
Aku (yang sudah memiliki visa kerja dan lebih dahulu masuk) mendapatkan informasinya dari anggota terakhir yang diizinkan masuk kalau banyak yang tertahan di dalam. Sebagai yang dituakan dalam rombongan, aku kemudian menemui Encik Roslee membicarakan permasalahan yang terjadi. Katanya dia tidak dapat memberikan izin masuk karena kami menyalahgunakan izin kunjungan sosial untuk bekerja di Malaysia. "Seharusnya tidak boleh bekerja, tapi ini kan mereka bekerja," katanya, "Ini merugikan pemerintah Malaysia karena seharusnya mereka membayar visa kerja. I tak boleh bagi mereka masuk. I kena hantar mereka balik". Ia akan memulangkan mereka kembali ke pintu keluar sebelumnya (Singapore). Aku meminta pengertiannya dan bertahan dengan tameng surat jalan dari perusahaan yang akan menanggung mereka jika ada masalah di Malaysia. Juga dengan pendekatan bahwa adalah keuntungan tersendiri bagi Malaysia karena anggota kami yang datang ini adalah orang-orang terlatih dan berpengalaman yang akan memberikan training kepada tenaga kerja lokal Malaysia.
Setelah bernegosiasi cukup alot (1 jam 10 menit) akhirnya 11 orang anggota rombongan kami diizinkan masuk. Jika sebelumnya diizinkan masuk dan berada di Malaysia untuk 1 bulan, maka kali ini hanya untuk 1 minggu! Itupun ditambahi stempel di paspor mereka agar melapor ke kantor imigrasi di Johor Bahru sampai batas waktu 17 September (atau jika tidak melapor maka harus keluar dari wilayah Malaysia). Wah, jadi persoalan nih bagi perusahaan kami, mengingat jika mereka harus keluar seminggu lagi maka tentunya tidak mudah bagi mereka untuk bisa langsung masuk lagi ke Malaysia pada minggu berikutnya.
Persoalan sebenarnya adalah permit kerja mereka belum selesai dan masih dalam pengurusan pihak agen. Perlu waktu cukup lama untuk mendapatkan approval dari pemerintah Malaysia bagi level mereka (operator, leader dan teknisi). Apalagi pengurusannya tidak hanya di Johor Bahru, tapi juga sampai ke kantor imigrasi di Kuala Lumpur yang berjarak 375 km dari JB. Jadi memakan waktu lama sebelum selesai, apalagi dalam jumlah banyak seperti kami. Sementara perusahaan sudah sangat membutuhkan mereka dalam kegiatan operasional. Akhirnya, ya begini deh jadinya, repot di pintu imigrasi.
Posted by
a_ardal
at
5:23 PM
0
comments
Thursday, September 06, 2007
Cinta Dalam 8 Bahasa
Nepal: me timi lae maya ganchhu
Philipine: aku mahal kita
India Tamil: naan unnai kathalikiren
Vietnam: anh yeu em
Chinesse Hokkien: wa ai le
Malaysia & Indonesia: aku cinta padamu
Hahahaha... inilah salah satu hasilnya kalau 8 kewarganegaraan berada di bawah satu atap. Aku jadi iseng bertanya kepada para anak buahku itu bagaimana mengucapkan 'I love you' dalam bahasa mereka masing-masing. Jadinya ya seperti di atas itu.
Persoalan komunikasi dengan bahasa-bahasa yang sangat berbeda ini memang salah satu kendala yang dihadapi di sini. Tapi diambil entengnya saja, agar tidak bikin pusing. Contohnya seperti yang kulakukan, sehingga bisa menjadi bahan tulisan ringan di blog.
Besok saja ceritanya, hal-hal lucu, menyedihkan, bikin bingung, dan lain-lain. Sekarang udah sore, mau pulang dulu ah...
Posted by
a_ardal
at
5:49 PM
0
comments
Labels: Lain-Lain, Lingkungan, Pekerjaan
Sedang Low
Takutnya seperti yang terjadi tahun lalu, kebawa-bawa ke tempat kerja.
Ayo, bangun! Bangkit! Jangan malas-malasan! Kerja... kerja... kerja...! Ingat misi pengabdianmu di dunia, bagaimana mungkin tercapai kalau begini terus?
Posted by
a_ardal
at
3:02 PM
0
comments
Labels: Kontemplasi, Personal
Tuesday, September 04, 2007
Pemandangan Dari Meja Kerja
Posted by
a_ardal
at
6:46 PM
0
comments
Labels: Lingkungan, Pekerjaan