Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Thursday, March 13, 2008

Banjir

Pulang ke Batam 3 hari tidak dapat kami manfaatkan sepenuhnya untuk berjalan-jalan karena cuaca yang tidak mendukung. Hanya hari Minggu saat datang dan Senin esoknya kami bisa jalan ke luar rumah, sementara satu hari penuh Selasa sampai Rabu siang menjelang kembali kami tidak bisa kemana-mana.

Hujan, hujan dan hujan sepanjang hari. Kadang deras kadang berhenti. Tapi sebentar kemudian deras lagi. Brrrr… dinginnya!

Untungnya hasil jalan-jalan ke Mega Mall dan Gramedia BCS cukup bisa menjadi teman di rumah menghabiskan waktu. Daripada tidur saja kan lebih baik baca buku, betul tidak? Dan sesekali mata mengawasi jalan di luar pagar, mengawasi ketinggian air di saluran depan rumah, agar tetap waspada banjir.

Banjir? Ya, bukan di rumah kami, tapi di blok depan rumah yang memang berada di tanah yang lebih rendah. Dulu-dulu mereka sering banget kebanjiran, pernah sampai semata kaki. Untungnya kali ini tidak. Jadi kami tidak terlalu sering melongok-longok jendela melihat keluar.

Tidak seperti di Batu Aji ini, yang sudah langganan sekali dengan banjir. Di depan perumahan Villa Muka Kuning ini bisa dibilang pasti banjir kalau hujan menderas beberapa lama. Cukup mengherankan sebenarnya, karena di sana proyek saluran air baru saja selesai dibuat. Tapi kok banjir lagi banjir lagi…. Proyek asal-asalan lagi kah?



Photo kiriman seorang teman melalui email Rabu siang.

Thursday, February 14, 2008

Bunga-Bunga Cantik

Wanita menyenangi bunga, tak terkecuali Mama Ani. Begitu melihat keindahan dan kecantikan bunga-bunga di taman-taman di Genting Higland, Mama Ani begitu excited dan berulangkali mengucapkan Subhanallah. Bunga-bunga aneka warna, rupa dan wangi yang luar biasa!

Tentu saja ia tak ingin keindahan bunga-bunga itu hanya untuk dinikmati saat berada di Genting saja atau menjadi kenangan untuk diingat-ingat di kepala saja. Melihat ulang dari photo-photo adalah cara terbaik untuk mengagumi keindahan karya cipta Illahi yang ditata dengan penuh imajinasi oleh ahli pertamanan di Genting Highland.

Inilah beberapa hasil photo Mama Ani tersebut:
Subhanallah !

Quote istimewa dari Mama Ani: "Meski suamiku tak pernah romantis memberiku bunga, aku sangat bersyukur Allah SWT yang maha romantis memberiku kesempatan menikmati keindahan bunga-bunga ciptaanNya!"

Wednesday, January 16, 2008

Sabuk Pengaman

Kulambaikan tangan pada sebuah taksi gelap di simpang Panbil. Aku hendak ke Batu Aji pagi itu. Taksi berhenti dan aku membuka pintu depan. Duduk dan menarik sabuk pengaman. "Ah ngga' apa-apa, Mas. Polisi sini saya kenal semua kok. Aman kita." si sopir 'mencegahku' menggunakan sabuk pengaman.

Kembali dari Batu Aji, taksi gelap yang lain, di sekitaran Villa Muka Kuning seorang lelaki tegap berambut pendek menghentikan taksi hendak menumpang. "Polres, Bang?" tanyanya. "Iya" jawab si sopir taksi sambil cepat-cepat menarik tali sabuk pengamannya. Aku yang kebagian tempat duduk di depan lagi, tersenyum dalam hati sambil memegang sabuk pengaman yang telah terpasang dari tadi.

Bukan untuk polisi kok Bang, sabuk pengaman itu. Ini dibuat untuk keselamatan kita sendiri. Kalau tiba-tiba Abang mengerem mendadak atau menabrak keras sesuatu di depan, maka sabuk itu bisa menyelamatkan nyawa kita. Karena berdasarkan penelitian para ahli, lebih dari 80% kematian atau cedera fatal akibat kecelakaan mobil di jalan raya disebabkan oleh benturan ke panel dashboard, setir, kaca dan tempat duduk di hadapan kita. Nah yang namanya sabuk pengaman itu adalah pengurang/penahan tekanan (yang bisa mencapai 60 kali berat badan kita) yang membanting tubuh saat terjadi pengereman/benturan mendadak.

Bukan karena polisi, ya Bang. Atau karena seseorang mirip polisi yang hendak ke kantor polisi yang tidak Abang kenal sehingga nanti mungkin Abang akan ditilang olehnya. Untuk kita Bang, untuk kita. Kalau kita celaka karena tidak pakai sabuk pengaman, para polisi itu hanya akan mencatat di laporannya tentang kematian/kecederaan kita. Itu saja. Dan itu tidak akan mengembalikan nyawa atau kesehatan kita. Sama sekali tidak.

Jadi lain kali, pakailah selalu sabuk pengaman begitu Abang duduk di belakang setir/dalam mobil. Bukankah Abang masih sayang dengan anak dan istri Abang di rumah?

Note: gambar diambil dari sini.

Monday, January 14, 2008

Brand New Taxi

Bagaimana rasanya menaiki sebuah mobil sedan super mulus, yang baru saja diantar dari ruang pamer (showroom) sore kemaren, plastik penutup di beberapa bagiannya masih terpasang, jarak tempuhnya baru 188km, masih dengan wangi khas pabrik, serta kursi yang empuk dan dashboard berkilap? Ajukanlah pertanyaan ini pada Mama Ani, maka jawabannya adalah pusing dan mabuk!

Bukan, bukan pusing memikirkan darimana dapat duit segitu banyak untuk membeli mobil. Atau mabuk kepayang kegirangan memiliki kendaraan pribadi roda empat. Bukan, bukan itu. Pusing dan mabuknya adalah dalam arti harfiah; kepala 'nggliyeng' dan rasa tidak enak karena ada 'dorongan' tertentu dari perut sampai kerongkongan.

Halah, kok ndeso banget?!

Itu karena pada Sabtu pagi lalu saat kami sampai di Jurong East Bus Interchange, kami 'beruntung' menumpang taxi CityCab ke Harbour Front. Taxi yang berjejer di perhentian taxi adalah taxi baru semua, Hyundai Sonata GLS yang mulai dioperasikan pagi itu. Aku menyadari taxi yang dipakai adalah taxi baru ketika sudah berjalan beberapa puluh meter. Saat kukonfirmasi ke sopirnya, ia mengatakan bahwa mobil-mobil ini memang baru diantar ke kantor mereka sore sebelumnya. Aku lirik ke panel di depannya, ya jarak tempuhnya baru 188km saja. Jadi sah-sah saja bila kusimpulkan bahwa pagi itu kami mengukir sejarah bagi taxi tersebut sebagai penumpang pertama yang dibawanya!

Dari pembicaraan dengan sang sopir, kuketahui bahwa armada baru ini adalah tambahan taxi baru di CityCab, bukan regenerasi atas taxi lama. Jumlahnya sekitar 20 unit. Untuk regenerasi, CityCab mengganti taxi-taxinya setiap 3~4.5 tahun sekali. Sebagian besar menjadi barang rongsokan atau kalau kondisinya masih cukup OK, dijual kembali.

Nah aku jadi membandingkan, andai saja aturan seperti itu diikuti juga di Indonesia, tentunya tidak akan kita temui taxi-taxi tua dan omprengan di jalanan. Taxi yang mesinnya sudah bobrok, berdempul gede di sana sini, joknya bolong-bolong dan kadang dihuni kecoak, serta 'sedapnya' campuran segala macam aroma setelah puluhan tahun 'diperkuda' oleh pemiliknya. Taxi seperti inilah yang seharusnya membuat kepala 'nggliyeng-nggliyeng' dan bikin mabuk serta perasaan khawatir akan keselamatan sopir dan penumpangnya. Bukan taxi baru kinclong mengkilap lho, Mama Ani ;)

Note: Gambar diambil dari Oom Wiki

Tuesday, January 01, 2008

Pagi Pertama 2008

Pagi yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Angin subuh bertiup kencang kerkesiur. Masih remang-remang di timur sana. Burung-burung masih tidur. Rumput-rumput dibasahi embun. Pekerja bangunan mulai menggeliat di bedeng gedung sebelah. Dan tentu saja di sini deru mesin pabrik tiada henti.

Tapi ini adalah pagi tahun baru. Adalah angin hangat 2008. Adalah cahaya kehidupan baru. Adalah burung harapan yang akan terbang tinggi. Adalah benih yang sedang disemai. Adalah geliat kehidupan baru. Dan adalah deru kehidupan yang tak juga henti bergulir.

A very brand new day of 2008!
:)

Friday, December 14, 2007

Lihatlah Ke Bawah!

Karena bekerja shift malam, aku sekarang tahu jadwal buka tutup kantin di pabrik kami. Kalau sebelumnya ketika aku datang pukul 08.30 pagi dan ketika aku pulang pukul 21.00 kantin masih buka, maka kini aku tahu bahwa baru pukul 21.30 kantin tutup dan sudah buka lagi pukul 05.00 pagi. Jadi hanya terdapat jeda kosong selama 7 jam saja bagi pihak kantin untuk mempersiapkan segala sesuatunya menjelang kantin dibuka dan setelah kantin ditutup.

Mengingat pembicaraan dengan pelayan di kantin itu beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa semua masakan itu mereka juga yang mempersiapkannya, maka aku menghitung-hitung waktu kerja mereka adalah hampir 20 jam sehari dan waktu istirahat hanya sekitar 4 jam saja! Waktu kerja adalah dari pukul 04.30 pagi sampai 12.00 malam, dimana termasuk juga waktu untuk membereskan semua perlengkapan di kantin, lama waktu tempuh dari pabrik ke rumah (juga sebaliknya), waktu memasak makanan untuk hari berikutnya dan waktu untuk mempersiapkan makanan menjelang dibawa ke kantin lagi.

Untuk jam kerja yang begitu panjang, para pelayan itu hanya dibayar kurang dari RM500 (tidak sampai Rp. 1.325.000) sebulannya!

Aku bandingkan kondisi itu dengan diriku yang saat ini mulai mengeluhkan diri karena bekerja malam hari, jam kerja 12 jam sehari, tidak harus membanting tulang kerja keras, duduk di depan komputer, di ruangan ber-AC, bergaji jauh di atas mereka, dan saat ini sudah merencanakan untuk mengajukan permintaan ini itu kepada perusahaan. Tiba-tiba aku merasa kurang banyak bersyukur atas nikmat pekerjaan yang kumiliki saat ini. Tiba-tiba aku merasa betapa banyak maunya aku. Tiba-tiba aku merasa betapa sayangnya Allah padaku dan aku tidak melihat hal itu selama ini.

Astaghfirullah 'aladzhiim...! Ya Allah, ampunilah aku yang jauh dari rasa syukur atas karuniaMu. Ampuni aku dari rasa sombong tidak melihat ke sekitar yang kondisinya lebih buruk dari keadaanku. Tundukkanlah hatiku untuk selalu menekuri jalan petunjukMu. Jangan butakan aku atas nikmat yang telah Engkau berikan, ya Rabbi. Ajari aku untuk selalu melihat cintaMu disekelilingku.

NB: Waktu-waktu yang disebutkan disini adalah waktu negara bagian Johor (satu jam lebih dahulu daripada WIB).

Wednesday, December 05, 2007

Hujan

Ternyata benar angin yang bertiup kencang beberapa hari belakangan sebagai pertanda hujan! Buktinya seharian ini tadi hujan terus turun dari pagi sampai malam. Membuatku yang sekarang bekerja di shift malam jadi merasa nyaman untuk tidur siang tadi.

Hujan datang atas izin Allah SWT, bukan diharap-harap, bukan dikira-kira, bukan atas ramalan, atau tanda-tanda. Hujan turun membasahi bumi, mengalir masuk ke pori-pori tanah, memberi kekuatan dan kehidupan. Ia tercurah dimana Allah ingin menunjukkan cinta pada hambaNya yang dibasahi oleh air hujan itu. Hujan adalah rahmat Allah.

Alhamdulillahirabbil'alamiin...

Monday, December 03, 2007

Kesiur Angin

Beberapa hari ini kencangnya tiupan angin sangat terasa di sekitaran apartemen. Dari lantai empat kami tinggal, jelas sekali angin meniup kencang pepohonan di bawah. Daun-daun meliuk sangat rendah menahan dorongan angin. Air di kolam renang nampak bergelombang-gelombang. Dan kesiur angin yang bergerak di pinggir-pinggir jendela mengeluarkan bunyi yang cukup kuat untuk didengar.

Jika pintu depan atau jendela samping apartemen di buka, maka angin akan meniup kencang masuk ke dalam apartemen. Karena membawa debu dan kotoran, maka pintu dan jendela kami tutup rapat. Untuk menghindari kepengapan, jika diperlukan kipas angin atau AC dinyalakan.

Hujan tetap belum turun di sini sehingga terasa gersang. Apakah angin yang kencang ini pertanda hujan akan segera datang?

Monday, October 29, 2007

Masjid Darussalam, Clementi - S'pore

Acara Hari Raya Bersama alumni ESQ Singapore hari Minggu siang kemarin mengambil tempat di Masjid Darussalam di Commonwealth Avenue West di kawasan Clementi. Masjid ini berlokasi sekitar 7 menit jalan kaki dari MRT station Clementi. Jika sebelumnya aku hanya melihatnya dari atas kereta MRT yang lewat di atasnya di jalur East West, maka kemarin aku bisa merasakan suasana dan melaksanakan shalat di dalamnya.

Penataan ruang dan fasilitas masjid sangat bagus, tertata dengan baik, lengkap, menjadi pusat ibadah sekaligus juga adalah pusat kemasyarakatan Islam di kawasan Clementi. Mulai dari ruang utama untuk shalat, area tertutup berwudhu, tersedianya perpustakaan, dinding informasi, sampai taman di dalam masjid. Demikian juga dengan kantin, aula untuk aneka kegiatan, tempat istirahat, area parkir, kantor managemen, ruang IT, dll.

Masjid yang indah, lengkap dan sungguh menyenangkan berada di dalamnya!

Bus Johor - Singapore PP Rp. 30,000 !

Mungkin adalah salah satu biaya perjalanan lintas negara paling murah di dunia. Ya, pulang pergi dari Johor ke Singapore dan balik lagi ke Johor hanya menghabiskan biaya Rp. 30,000! Mari kita hitung...

Dari Gelang Patah, Johor Bahru menggunakan bus Causeway Link Handal Indah bernomor trayek CW3 ke Jurong East Bus Interchange, Singapore ongkosnya adalah RM3.5 saja. Sebaliknya dari Jurong East ke Gelang Patah biayanya adalah S$3.5. Perhatikan, sama-sama 3.5 tapi berbeda mata uang. Jumlah totalnya (RM3.5 + S$3.5) jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah, kurang lebih adalah 30 ribu saja. So, murah kan?

Ini busnya (photo diambil di depan halte bus di Gelang Patah):
Busnya ber-AC, bagus, bersih, aman dan cukup nyaman. Tidak ada kenek, penumpang bayar ke alat di depan dekat sopir, bel berhenti di setiap tiang dan jendela, pegangan tangan untuk yang tidak kebagian tempat duduk, dan tentu saja tidak ada pengamen, pengemis, dan sebangsanya... :)

Dan ini secuil pemandangan dari tempat menunggu bus trayek CW3 ke Gelang Patah di Jurong East Bus Interchange. Bus berhenti persis di depan pintu antrian, penumpang antri mengikuti jalur pagar besi yang telah disediakan dan naik tertib satu persatu tanpa perlu berebut.

Untuk yang ingin mencoba, kapan-kapan kuajak. Hehehe... :)

Night View From The Desk

I owe this picture quite long time. Actually I remember I owe it and keep on asking myself to do the posting here. But well, sometimes I really got no time. Bad reason? (hey, it just a quick flash, what?)
However, I did it. You can see it now :)
(Insufficient light made it somehow too dark. Can't do better behind the locked glass window!)

Nice view, right?

Saturday, October 27, 2007

Ada Apa Dengan Lift?

Hari ini terulang lagi lift di apartemen bergerak tidak sesuai perintah yang diberikan. Setelah kejadian ini aku sebenarnya sudah melupakannya, paling-paling ada sistem mekanis yang tak berfungsi semestinya atau apalah. Bukan hal-hal yang berkaitan dengan supranatural pokoknya.

Tapi tadi pagi saat hendak turun ke lantai 1, tentunya dengan menekan tombol angka satu dan tombol penutup pintu, lift malah bergerak naik ke lantai 8! Halah... apalagi nih? pikirku. Seharusnya menurut logika instruksi mekanis, lift terdekat yang turun maka itulah yang langsung turun ke bawah. Bukan berdasarkan prioritas waktu panggil setiap lantai. Jadi kalau dipanggil turun ya turun aja, tidak melayani panggilan naik meski itu untuk turun juga.

Tapi itulah yang terjadi, lift naik ke lantai 8 dimana tidak ada orang yang memanggil! Setelah pintu menutup, lift lalu kembali turun tanpa aku menekan tombol 1 lagi. Tuh kan aneh... seharusnya ada perintah lagi agar lift itu turun, tapi ini ngga'. Darimana lift tahu kalau ia harus naik atau turun, sementara saat itu lampu angka 1 sudah kembali mati!

Dan ternyata pagi itu bukan aku saja yang mengalami kejadian aneh itu. Teman-teman perempuan di blok B yang akan turun dari lantai 13 ke lantai 1 malah dibawa naik ke lantai 16 dulu lalu diturunkan di lantai 4, padahal tidak ada yang menekan tombol 4 atau ada orang yang menunggu di lantai 4! Karena ini baru pertama kali mereka alami, karuan saja mereka ketakutan. Mereka langsung keluar lift di lantai 4 dan memilih turun lewat tangga saja!

Weird, huh?

Wednesday, October 24, 2007

Lift Aneh?

Lift adalah fasilitas peralatan standar yang umum tersedia di gedung-gedung bertingkat tinggi. Naik turun dari satu lantai ke lantai yang lain menjadi mudah, cepat dan tidak melelahkan. Pernah membayangkan, atau mungkin melakukan, naik dari lantai dasar ke lantai 20 (misalnya) dengan cara manual melalui tangga? Pasti sangat melelahkan! Namun bisa saja hal tersebut terjadi jika terdapat kerusakan pada lift yang memakan waktu lama untuk diperbaiki, sehingga para penguna terpaksa menempuh jalan tangga untuk mencapai lantai yang ingin ditujunya.

Pernah juga mendengar orang terjebak di dalam lift kan? Karena faktor teknis atau mekanis, tiba-tiba saja lift bisa berhenti di sembarang ketinggian sehingga membuat pengguna di dalamnya terjebak tak bisa kemana-mana. Bahkan diperparah lagi oleh kemungkinan matinya lampu, alat komunikasi atau pendingin udara di dalamnya, menimbulkan rasa panik bagi mereka yang terjebak.

Itulah yang terpikir tadi malam saat aku mengalami kejadian sedikit aneh dengan lift di apartemen blok A (setiap blok di apartemen memiliki 2 lift untuk turun naik). Aku masuk lift sebelah kanan dari lantai dasar bersama Hadi dan satu orang penghuni lagi. Hadi memencet tombol 4, aku 5 dan seorang lagi 10 untuk sampai ke lantai apartemen masing-masing. Pintu menutup dan lift naik seperti biasa, berhenti di angka 4 dan Hadi keluar. Sampai pintu menutup kembali semua berlangsung normal. Lift naik ke lantai 5 dimana aku akan keluar. Tapi ketika lampu indikator di panel menunjukkan angka 5 dan lampu di tombol angka 5 sudah mati (tanda sudah sampai di tingkat yang dituju), lift tiba-tiba berguncang. Aku dan si pemuda kaget dan berpandangan heran. Apalagi kemudian lift bergerak naik terus tanpa membuka pintu atau berhenti di lantai 5. Ketika sampai di lantai 10, tombol angka 10 mati tapi lift naik terus ke atas. Kami kembali berpandangan dan mengangkat bahu tidak mengerti apa yang terjadi. Kami biarkan saja lift bergerak semaunya. Kami juga tidak memencet tombol apa-apa lagi setelah itu.

Lift terus naik sampai ke lantai 16, lantai tertinggi di apartemen Nusa Perdana, di situlah lift berhenti. Tanpa membuka pintu, lift kembali bergerak turun, angka di panel bergerak turun 15... 14... 13... 12... 11... dan 10. Pintu terbuka, si pemuda tersenyum senang dan ia keluar dari lift. Nah lift sudah kembali berfungsi, pikirku. Aku tekan tombol angka 5 dan lift bergerak turun. Di panel muncul 9... 8... 7... 6... dan 5. Pintu terbuka, alhamdulillah ucapku dalam hati. Namun ketika melangkah keluar lift dan belok kanan ke arah unit nomor 3, aku sadar aku tidak berada di lantai 5. Aku ternyata keluar lift di lantai 4! Hah, kok bisa? Bukannya tadi aku memencet tombol 5 dan angka di panel menunjukkan angka 5 ketika pintu terbuka? Aku yakin sekali aku tidak salah pencet atau salah lihat. Aneh banget!

Kutekan kembali tombol naik agar lift kembali dan aku bisa naik ke lantai 5. Lift datang beberapa saat kemudian, dari dalamnya keluar Nursodik yang tinggal di unit yang sama dengan Hadi. Kuceritakan padanya kejadian yang kualami dan ia tertawa heran. Sedikit ragu aku masuk kembali ke dalam lift dan dengan bismillah kutekan angka 5. Ternyata kali ini tidak ada masalah, aku berhasil sampai di lantai 5.

Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Kesalahan teknis, mekanis, humanis atau...? Entahlah!

Thursday, October 18, 2007

Pasar Malam Gelang Patah

Ada pasar dadakan di Gelang Patah setiap Selasa malam. Lokasinya di jalan depan jejeran salah satu pertokoan di sana, dekat halte bus dan pusat jajan. Disebut pasar malam karena hanya dibuka mulai sore pukul 5 sampai 10 setiap Selasa malam saja.

Ini suasana jalan di siang hari-hari biasa:

Dan ini suasananya pada Selasa malam:
(photo belum diambil, tunggu Selasa depan ya...)

Para pedagang menggelar barang dagangannya di lapak-lapak bongkar pasang, dilindungi tenda terpal/plastik, serta diterangi cahaya lampu bersumberkan generator. Sangat bervariasi dagangannya, mulai dari ikat rambut, gunting kuku, tas pakaian, buah-buahan, makanan kecil sampai besar (seperti ayam bakar utuh), mainan anak-anak, minuman, alat-alat dapur, voucher top-up pasca bayar, bumbu-bumbu, sayuran, sampai ke ikan/daging segar, semua ada tersedia. Karena itulah setiap Selasa malam pasar ini ramai dikunjungi warga sekitar. Apalagi harganya cukup bersaing dengan harga di kedai runcit (warung kelontong), sehingga banyak juga yang membeli kebutuhan mingguannya di sini.

Kalau aku ke sana, yang kunikmati adalah suasananya. Rasanya seru aja jalan kaki malam-malam, berada di tengah-tengah arus manusia yang sedang melihat-lihat atau bertransaksi, sambil mengudap makanan kecil, diterangi cahaya lampu dari setiap lapak (dan kalau beruntung, cahaya bulan purnama), menghirup aroma pasar (ingat waktu jalan ke Pekanbaru ini), sambil ngobrol dengan teman-teman.

Itulah juga kesan yang ditangkap Mama Ani dan ADA saat mereka kuajak ke pasar malam minggu lalu. Mereka senang sekali berada di sana, melihat-lihat dan membeli beberapa barang yang diminati. Itulah kenapa tadi malam mereka kembali mengajak pergi ke sana. Tidak ada barang yang ingin dibeli sebenarnya, tapi hanya ingin merasakan suasananya saja. Jadi meski agak mendung dan baru saja selesai hari Raya (sehingga jumlah pedagang dan pengunjung berkurang), tetap saja menyenangkan bagi kami jalan-jalan di sana. Murah, meriah dan menyenangkan!

Wednesday, October 17, 2007

Kemana Taksi Ya?

3 hari pertama Hari Raya susah sekali mendapatkan taksi di Gelang Patah. Menelpon ke satu-satunya taksi operator tidak ada yang menjawab. Menelpon langsung ke beberapa nomor pengemudi taksi yang ada di phonebook HP juga tidak mendatangkan hasil. Ada yang menjawab, "Saya sedang libur Raya, jadi tak pergi menambang", sopir yang lain berkata, "Saya tak di Gelang Patah, Bang. Saya sedang di bandar", sementara yang satunya lagi bilang, "Tak bisa lah Bang, saya bawa keluarga jalan-jalan ini hari!", dan yang lain lagi menjawab, "Kereta saya dibawa kawan, saya tak kerja di Raya ni". Waduh... cape' deh menelpon sana-sini tanpa hasil!

Kesimpulannya: susah cari taksi saat Hari Raya di Gelang Patah (dan mungkin juga se-Johor Bahru) karena sopirnya juga sedang merayakan Hari Raya!

Wednesday, September 19, 2007

TKW Lugu dan Indonesiaku

Aduh sedih deh melihat gadis-gadis bangsaku terlongong-longong (benar ngga' ada kata ini dalam bahasa Indonesia? maksudku adalah terpelongo dan terbengong-bengong) melihat kilau kemajuan Singapura. Kepala celingukan kanan kiri, rona takjub di wajahnya, dan bahasa tubuh yang menunjukkan keminderan mereka. Juga kegamangan budaya berada di sebuah negara yang teknologi layanan publiknya sudah sangat maju.

Mereka yang kumaksud adalah gadis-gadis muda usia yang datang ke Singapura untuk bekerja sebagai TKW (entah apa bidang pekerjaannya nanti) yang tadi kutemui di Harbour Front. Gadis-gadis lugu yang entah direkrut dari pelosok Indonesia yang mana. Gadis-gadis 18~20 tahunan berkaos oblong lusuh bercelanan jeans berambut pendek (sepertinya rambut pendek ini adalah syarat dari agensi yang merekrut mereka, menjadi perhatianku karena potongannya sama satu sama lain) yang datang dengan menyeret tas besar milik mereka. Gadis-gadis yang bahkan tak tahu bagaimana cara keluar dari ruangan berpintu otomatis!

Di luar berbagai perlakuan yang akan mereka dapatkan, keberhasilan atau penderitaan, ataupun juga pengalaman dan kehidupan baru, aku berpikir sampai kapan bangsaku akan terus mengekspor warganya yang tak berpendidikan dan berkemampuan bagus demi menangguk sedikit devisa dari luar negeri? Sampai kapan bangsaku yang dulu begitu dihormati di Asia Tenggara (ah, rindu dengan pemimpin seperti engkau, Bung Karno!) akan terus menjadi bangsa yang tak dihormati dan dinista (bahkan oleh sesama Melayu!) karena stereotip kelas pembantu? Sampai kapan mentalitas korup bangsaku akan terus ada karena jika ia hilang maka tercipta stabilitas ekonomi dan keamanan yang lebih baik demi tumbuhnya roda-roda kehidupan yang akan mengundang investor berduyun-duyun datang?

Manusia Indonesia tidak bodoh sesungguhnya, andai punya kesempatan untuk belajar ke tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman berinteraksi dengan beragam manusia dari berbagai bangsa telah menunjukkan padaku bahwa orang luar negeri tidak lebih pintar dari kita. Malahan dalam banyak hal kutemui bahwa orang Indonesia selain lebih cerdas dan baik, kita juga lebih tangguh, pekerja keras, bersemangat tinggi, dan tidak gampang menyerah dengan keadaan. Bukankah itu modal yang luar biasa?

Jadi kunci sebenarnya adalah pendidikan yang lebih baik untuk membuka kesempatan yang lebih luas. Aku teringat pertanyaan Kaisar Hirohito ketika Jepang hancur lebur dalam Perang Dunia ke-2, "Seberapa banyak guru kita yang masih hidup?". Sebuah pertanyaan tanda kepedulian yang luar biasa atas nasib bangsa di masa yang akan datang. Hirohito sangat mengerti pentingnya pendidikan bagi bangsanya. Dan dengan dasar itulah Jepang bangkit menjadi raja ekonomi dunia saat ini.

Bagaimana pendidikan Indonesia saat ini? Bagaimana nasib bangsa ini nanti? Akankah terus selugu para TKW itu yang terlongong-longong di negara orang lain?

Stiker Bikin Bingung

Sore tadi saat mengantar beberapa orang yang hendak pulang ke Batam, di lampu merah Alexandra Road - Telok Blangah (Singapore) van perusahaan yang kutumpangi berada di belakang sebuah Toyota COLT Prius warna silver pine mica bersih mengkilat (wuih... keren mobilnya!). Yang menarik perhatianku bukan elegansi mobilnya, tapi sebuah stiker kuning yang tergantung di bagian dalam. Bunyinya: A CLEAN car is the sign of DIRTY mind.

Aku mengartikannya sebagai 'mobil yang bersih adalah tanda dari pikiran yang kotor'. Heh, kok gitu? Kuputar kincir-kincir otakku untuk mencari maksud tersembunyi dari kalimat itu. Tapi sampai saat tulisan ini dibuat, aku belum menemukan maksud tulisan di stiker itu.

Anybody can help?

Friday, September 14, 2007

Mesjid 45 Kipas

Di satu-satunya mesjid yang ada di Gelang Patah (mesjid Jamee') yang kudatangi tadi untuk shalat Jum'at, aku menemukan beberapa hal yang menarik.

Di dinding atas dalam ruang utama masjid dipenuhi dengan kaligrafi-kaligrafi indah berwarna hijau, merah, hitam dan biru. Di bagian depan atas mimbar adalah kaligrafi Asmaul Husna 99 nama Allah berwarna merah. Samping kanan adalah kaligrafi Al Fatihah, samping kiri ayat Qursy dan bagian belakang aku belum memperhatikan dengan cermat (ngga' enak dong menoleh-noleh ke belakang saat jamaah sedang penuh). Lalu pada 4 tiang terdapat kaligrafi surat Al Kaafiruun, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas. Meski bangunan mesjidnya sendiri sederhana, tapi dengan karya kaligrafi tersebut maka mesjidnya terasa menjadi indah.

Kalau di Indonesia kotak infak/sadaqah biasanya terbuat dari kayu. Barangkali maksudnya adalah agar jamaah yang memasukkan uang ke dalamnya merasa aman orang lain tidak mengetahui jumlah uang yang dimasukkan, biar jauh dari rasa riya'. Meski di beberapa tempat pernah juga ditemui kotak infak terbuat dari kaca sehingga tembus pandang isi di dalamnya. Nah di mesjid Jamee' ini, kotak infaknya adalah kotak plastik ware (wadah makanan) yang dilubangi. Lucu juga dan nampak simple.

Hal berikutnya yang menarik perhatian adalah jumlah kipas angin yang tersedia di dalam mesjid. Aku hitung semuanya ada 45 kipas angin! Pada setiap sisi dinding ruang utama mesjid berukuran 8x16 meter itu terdapat 2 buah, dekat mimbar ada 3 buah, pada ke-4 tiang terdapat masing-masing 3 buah, di teras kiri kanan terdapat 2 buah, teras belakang 3 buah da di bagian belakang ada 15 buah kipas angin! Hebatnya, semua kipas angin itu beroperasi dengan baik. Jadi semilir dan desir angin selalu terasa di dalam mesjid, membuat perasaan terasa nyaman dan enak untuk beribadah di dalamnya.

Negara Taman

Salah satu yang menyenangkan mata jika berada di Singapore adalah melihat hijaunya tumbuh-tumbuhan, pepohonan, bunga-bunga, dan padang rumput hijau dimana pun kita berada. Bahkan di beberapa tempat dipenuhi dengan burung-burung yang terbang, berkicauan, dan bermain bebas tanpa ada yang mengusik. Tata letak bangunan dan fasilitas kota sangat diperhatikan sehingga menyenangkan untuk dilihat.

Beberapa photo berikut diambil saat dalam perjalanan dari Tuas Check Point (Imigrasi) ke Harbour Front. Lihatlah pepohonan di kiri kanan jalan yang rapi dan terawat dengan baik. Perhatikan juga bersihnya aspal jalan dan lapangnya jalur lalu lintas (photo diambil pukul 2 siang) sehingga sangat nyaman dilewati.

Padahal pembangunan berbagai fasilitas baru di sepanjang jalan itu terus dilakukan. Ada pembangunan gedung perkantoran, apartemen mewah, bahkan stasiun MRT baru. Namun sungguh berbeda dengan pengerjaan konstruksi di Indonesia (dan juga Malaysia) yang semrawut, pembangunan itu dilakukan dengan sangat rapi, tertutup, bersih, dan sangat terencana. Tidak akan nampak bagaimana pengerjaannya (kecuali kalau kita di jalan layang dan pembangunannya di tempat yang lebih rendah) karena sekeliling area ditutup dengan seng atau plastik rapi. Tidak akan nampak truk-truk lewat membawa tanah berceceran karena truk tersebut wajib menutup bagian atasnya (jika ada tanah berceceran di jalan, pihak konstruksi akan terkena denda yang tinggi). Tidak akan nampak jalan yang kotor atau rusak dilewati alat-alat berat. Tidak ada penebangan pohon atau perataan wilayah tanpa mempertimbangkan faktor keindahan penghijauan, dsb. Hasilnya adalah pembangunan yang rapi, sesuai site plan, tepat waktu dan memperhatikan lingkungan.

Kapan ya kota-kota di Indonesia bisa menjadi kota taman seperti Singapore?

Thursday, September 13, 2007

Gempa Di Padang

Diberitahu Ali lewat email pukul 08:11 pagi tadi kalau Padang diguncang gempa hebat. Langsung ke detik mencari info. Dapat ini, ini serta ini. Kurang puas, lalu ke liputan6 SCTV, dapat ini dan ini. Melihat skala gempa yang besar, aku kemudian menelpon ke rumah di Padang untuk mengetahui kondisi keluarga di sana. Dari Tuti dapat kabar bahwa gempanya masih susul menyusul sehingga mereka ketakutan dan lebih sering berada di luar rumah. Begitu terasa bergoyang, serentak lari keluar rumah. Kalau sudah agak tenang dan tak ada goyangan lagi, baru kembali masuk ke rumah.

Menurut prediksi para ahli, kawasan pantai barat Sumatera adalah kawasan rawan gempa. Karena itu penduduk di sana akan terus merasakan goyangan tanah tempat mereka berpijak. Merasakan kehilangan penyangga di kaki-kaki mereka karena Allah Al Qoobidh sedang menarik kekuatan itu darinya. Itulah salah satu wujud keMahaPerkasaanNya! Lalu, bagaimanakah manusia boleh merasa sombong melangkahkan kakinya di dunia?

Mudah-mudahan keluarga di Padang selalu dalam lindunganNya. Demikian juga bagi seluruh warga kota Padang, Bengkulu, Jambi dan daerah-daerah lain yang terkena dampak gempa tersebut. Semoga semua bisa mengambil hikmah dari ujian ini dan Insya Allah akan membuat mereka tabah dan sabar menghadapinya.

Photo dari liputan6.com